Otobiografi -
Nama Saya Yulia Ainur Rohma. Saya adalah anak ke-2 dari 3 saudara. Saya mempunyai satu kakak perempuan yang bernama Nurul Aliyah dan mempunyai satu adek laki-laki yang bernama Achmad Fery Kurniawan. Saya lahir pada tanggal 30 Juni 1995. Saya dilahirkan oleh seorang ibu yang sangat mulia, Ia bernama Dewi Tahrima dan dibantu oleh sebuah bidan di sekitar rumah tinggal Saya saat itu. Ayah Saya adalah orang yang sangat bijaksana dan sayang keluarganya, beliau bernama Surianto.
Saat kecil Saya tinggal di Pandan Landung, Mulyorejo. Ibu saya membuka kantin di tempat kerja Ayah Saya. Sekeluargapun ikut tinggal di kantin tersebut. Saya disekolahkan TK oleh kedua orang tua Saya di sekitar tempat tinggal Saya, TK PGRI.
Awal masuk sekolah Saya bertemu dengan teman Saya, Ia bernama I`ik. Entah mengapa mulai awal mengenal I`ik Saya sudah merasa akrab. Selain bertemu I`ik Saya juga bertemu banyak teman yang Saya lupa namanya. Saya juga bertemu seorang guru muda yang sangat ramah, Ia bernama Bu Endang. Masih beberapa bulan Saya sekolah di TK tersebut, Ayah Saya di PHK dari tempat kerjanya, akhirnya Saya dan keluarga Saya pindah ke Mergosono, rumah tinggalan Kakek. Ibu saya juga berhenti membuka kantin lagi. Akhirnya Saya pindah sekolah juga, pindah TK di Mergosono yaitu di TK Muslimat NU 07. Awal pindah Saya masih malu-malu. Beruntungnya ada anak Laki-laki yang mengajak saya berteman, Ia bernama Firman. Ternyata Ia tetangga Saya. Semenjak itu Saya berangkat dan pulang sekolah bersama Firman. Saat TK Saya rajin mengikuti DrumBand, hingga sering ikut main dimana-mana. Di club DrumBand itu Saya bagian senar drum. Saat-saat itu sangat menyenangkan.
Setelah lulus TK Saya Sekolah di SDN Mergosono 3. Awal masuk sekolah Saya bertemu lagi dengan teman-teman TK Saya, meskipun tidak semua tapi paling enggak Saya ada yang kenal. Saya mempunyai Walikelas yang baik hati dan sangat bijaksana untuk membimbing anak didiknya, Ia bernama Bu Sumini. Ia menjadi Walikelas Saya mulai kelas 1 hingga kelas 3. Dan tidak seperti SMP atau SMA, semua pelajaran hanya diajar oleh satu orang guru saja di SD ini, kecuali pelajaran Agama Islam dan Bahasa Arab. Saya dan teman-teman sangat disiplin saat diajar oleh Bu Sumini. Namun, saat kelas 4 Walikelas Saya diganti dengan Bapak Riadi. Bisa dikatakan Ia bukan seorang guru. Bagaimana tidak Ia sungguh tidak mengeluarkan jiwa seorang gurunya, Ia tak pernah memberi kita tugas, tak pernah mengurus semua siswanya. Dan akhirnya Saya dan teman-teman menjadi berantakan dan sangat berbanding terbalik pada waktu kelas 1-3 kemarin. Beruntungnya saat kelas 5 Walikelas Saya diganti dengan Bu Utami. Sedikit demi sedikit Saya dan teman-teman mulai berubah lagi, tak seperti kelas 4 kemarin. Saat kelas 5 Saya dipercaya oleh guru Bahas Arab Saya untuk mewakili sekolah Saya dalam perlombaan Pidato Bahasa Arab di Universitas Negeri Malang. Meskipun Saya tidak menang tapi Saya sudah bangga karena Saya sudah menampilkan yang terbaik. Selain mengikuti lomba pidato, Saya juga aktif dalam ekstra kulikuler karate. Hingga mengikuti latihan di daerah Batu. Pernah Saya menngikuti turnamen karate di GOR Ken Arok, dan alhamdulilah Saya mendapat juara 3 bersama. Ketika kenaikan kelas 6 alhamdulilah Saya mendapat pringkat 5 besar. Di kelas 6 sangat berbeda dengan kelas-kelas sebelumnya, saat kelas 6 masuk sekolah lebih pagi dan pulang sekolah lebih sore karena ada bimbel untuk persiapan Ujian kelulusan. Saat itu nama Ujian kelulusan bukan UAN seperti saat ini, namun UPM yang merupakan singkatan dari Ujian Pengendali Mutu. Saya dan teman-teman melewati hari-hari mendekati Ujian dengan riang, Semua teman Saya sangat antusias untuk lulus dan masuk SMP favorit masing-masing.Hari pengumuman kelulusan pun datang, semua teman Saya was-was dengan pengumumannya. Alhamdulilah semua teman Saya lulus, dan Saya mendapatkan nun yang bisa dikatakan rata-rata yaitu 36.00.
Selulus SD Saya melanjutkan sekolah Saya ke SMP. Saya melanjutkan di SMP Negeri 7 Malang karena sekolah tersebut dekat dengan rumah Saya saat itu dan nun Saya hanya mencukupi di sekolah tersebut. Sebenarnya cita-cita Saya masuk SMP Negeri 6 Malang, namun nun Saya kurang banyak. Awal masuk SMP Saya masuk kelas 7E. Saya sekelas dengan teman SD Saya yaitu Sunu, meskipun tidak kenal dekat tapi Saya cukup kenal dengan dia. Selain dengan Sunu, Saya juga bertemu dengan teman-teman dari berbagai SD di kota Malang. Hari pertama Saya masuk kelas 7E Saya duduk sebangku dengan Dinda, dia berasal dari SDN Sukun 1. Di belakang Saya ada Bella dari SDN Gadang 1 dan Nanda dari SDN Ciptomulyo 1. Bella ialah seorang perempuan yang sangat cantik sehingga Ia menjadi sorotan seluruh siswa laki-laki di 7E. Teman laki-laki yang pertama Saya kenal adalah Romy, Ia berasal dari SDN Kesatrian 2. Saya pertama mengenal Romy karena Ia cukup enak dipandang dibanding laki-laki yang lain di kelas 7E. Hingga Ia dipilih menjadi ketua kelas di Kelas 7E. Menurut seluruh teman-teman di 7E Bella dan Romy sangat cocok. Sehingga teman-teman sering menjodohkan mereka berdua. Seperti biasa bila masuk SMP selalu ada acara MOS atau ‘Masa Orientasi Siswa’. Saya dan teman-teman mengikuti MOS dengan sangat riang karena baru pertama kali merasakan. Saya dan teman-teman disuruh membawa barang yang aneh-aneh. Tapi Saya dan teman-teman melaksanakan dengan tertib karena takut sama kakak-kakak pembina. Di Hari terakhir MOS, Saya dan teman-teman diajak ke Puncak Buring untuk penutupan MOS. Saya dan teman-teman jalan kaki untuk menuju kesana. Saat-saat ini adalah saat yang paling berkesan dalam acara MOS. Karena, Saya dan teman-teman menjadi kompak dan lebih mengenal banyak teman. Teman-teman yang Saya kenal saat itu ialah: Dinda, Bella, Nanda, Handa, Iva, Romy, Marsal, dsb. Meskipun belum mengenal semua nama, tapi sudah hafal muka teman-teman kelas. Setelah MOS, pelajaran secara intensif pun di mulai. Saya dan teman-teman mulai saling bekerja sama dalam segala pelajaran. Saya dan teman-teman juga mengenal lebih banyak guru di Sekolah tersebut. Saat kenaikan kelas 7E menjadi kompak, sehingga Saya dan teman-teman tidak rela untuk berpisah dan tidak sekelas lagi.
Kenaikan kelas pun datang. Saya masuk kelas 8G. Kelas tersebut terkenal sebagai kelas anak-anak nakal. Sebagai kelas anak-anak yang susah untuk dinasehati oleh guru-guru. Hingga menjadikan Saya tak habis pikir, sebandel itukah Saya? Semoga tidak. Di Kelas 8G Saya mendapat Walikelas yang cukup killer. Ia bernama Bu.Sundari. Di Kelas 8G juga Saya bertemu dengan teman-teman baru yang Saya belum kenal di Kelas 7E dulu. Saya pertama kali masuk 8G tidak sengaja Duduk sebangku dengan Fitri. Ia anaknya kocak meskipun sedikit menyebalkan. Selain bertemu Fitri, Saya juga bertemu dengan Zenyta. Ia perempuan yang agak sedikit laki-laki. Tapi, Ia mudah diajak berteman. Selain Fitri dan Zenyta, Saya juga bertemu yang lain seperti: Dina, Venanda, Lidya, Yenny, Yoga, Fery, Ivan Setya Wiranata, Wanda, Dana dsb. Mereka tidak seperti teman-teman kelas 7E yang rajin dan nurut kepada guru. Mereka sangat menyepelehkan pelajaran, bagi mereka persahabatan dan kekompakan itu terpenting. Sebenarnya itu negatif, tapi entah mengapa Saya jadi ikut seperti itu. Menurut Saya saat itu sungguh menyenangkan sekali. Setiap harinya Saya dan teman-teman mengisi pelajaran dengan bercanda, foto-foto dan mendengarkan musik. Sangat jarang mendengarkan guru kecuali guru yang Saya dan teman-teman takuti. Hingga Saya dan teman-teman kena hukum Pak Mudianto karena terlalu banyak bercanda. Beruntungnya saat kenaikan ke Kelas 9, Saya dan teman-teman sudah berubah tidak seperti awal kelas 8. Dan di luar kesadaran Saya mendapatkan peringkat ke3 saat penerimaan Rapor kenaikan kelas.
Setelah menikmati liburan panjang akhir semester, Saya harus masuk sekolah lagi. Saya masuk kelas 9D. Saya bertemu lagi dengan Walikelas kelas 8G dulu, Bu Sundari. Teman-teman Saya juga banyak yang tetap. Tapi ada yang baru juga, seperti Lidya, Rilla, Tiwi, Ika, Risky Mayandi, Ivan Setiawan, Ridwan, Widy, Arum, Fulqi dsb. Saya juga sering kumpul sama teman-teman kelas 7E dan 8G, juga teman-teman diluar kelas. Sehingga Saya mengenal Laila, Inggit, Syarifudin, Erwin, Risal, Anggoro, dan banyak lagi hampir satu sekolah. Sungguh menyenangkan mengenal mereka, membuat Saya semangat belajar. Rutinitas baru di kelas 9 adalah try out, rutinitas yang belum pernah sama sekali saya ikuti sejak kelas 7. Dan karena Saya mengikuti dengan sungguh-sungguh, Saya mendapatkan nilai yang cukup bagus pada try out tersebut. Saya juga pernah mendapat peringkat ke9 dari seluruh siswa kelas 9 di SMP 7. Saat mendekati UAN, Saya dan teman-teman melewati dengan serius. Saya dan teman-teman juga sering mengikuti tambahan pelajaran dan istigotsah hanya untuk persiapan UAN. Saat UAN pun berlangsung, Saya dan teman-teman belajar dengan penuh keseriusan. Karena, Saya dan teman-teman mempunyai cita-cita untuk masuk SMA favorit masing-masing. Setelah UAN, hari pengumuman pun datang. Saya dan teman-teman cukup was-was karena ada isu bahwa SMP 7 banyak yang tidak lulus. Meskipun ada ujian ulangan, namun menurut Saya dan teman-teman lebih baik tidak mengulang. Alhamdulilah, Saya dinyatakan lulus dengan nun 29.50. meskipun tidak banyak tapi Saya bersykur karena tidak mengulang. Pengumuman usai Wisuda pun datang. Sebenarnya Saya dan teman-teman tidak ingin berpisah. Tapi, mau bagaimana lagi. Saya dan teman-teman harus berpisah. Harus melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi yaitu SMA. Saya dan teman-teman menjalankan dengan tangis haru. Bahagia karena sebentar lagi SMA. Namun, bersedih karena harus berpisah dengan teman-teman sebaik mereka. Meskipun nanti di SMA Saya dan teman-teman pasti bertemu teman-teman seperti itu lagi.
Setelah lulus SMP Saya akan melanjutkan ke SMA. Saya ikut PSB Online menuruti kemauan orang tua. Sebenarnya Saya ingin ikut jalur mandiri. Namun, oleh Ibu Saya dilarang karena menurutnya ikut jalur mandiri terlalu mahal. Daripada Saya durhaka, ya Saya menuruti apa katanya. Alhasil, Saya tidak masuk SMA negeri manapun saat PSB Online karena nun Saya yang kurang. Tidak berhenti disitu, akhirnya Saya daftar ke SMK dengan maksud agar tidak masuk sekolah swasta. SMK negeri 1 Malang pilihan terakhir untuk saya masuk sekolah negeri. Namun, tuhan berkata lain. Sebenarnya Saya sudah diterima di Sekolah tersebut. Hanya karena keadaan ekonomi keluarga Saya saat itu Saya tidak di izinkan Sekolah disana. Akhirnya Saya bilang ke Ayah Saya untuk sekolah di SMA ISLAM Malang. Awal Saya mengetahui SMA ISLAM Malang itu dari stasiun tv lokal di kota Saya. Ayah Saya pun menyutujui karena menurutnya Sekolah itu cukup terjangkau dengan Uang yang disiapkan Ayah Saya. Akhirnya Saya diterima di Sekolah tersebut.
Awal masuk sekolah tersebut Saya ragu. Karena, Saya mencoba hubungi teman-teman SMP Saya dan tidak ada satu pun teman Saya yang bersekolah di SMA ISLAM Malang. Saya takut jika di sekolah tersebut Saya tidak mempunyai teman. Ternyata, Baru pertama kali masuk Saya bertemu dengan teman SMP kelas 9 Saya yaitu Fulqi. Saya dan Fulqi masuk dalam satu kelas saat pembagian kelas, kelas XG. Saya memutuskan untuk duduk bersebelahan dengannya. Setelah pembagian kelas, Saya dan teman-teman kelas yang belum Saya kenal mengikuti MOS. Di Hari pertama MOS Saya mengenal Qonita. Ia berasal dari SMP 17 Malang. Selain Qonita, Saya juga bertemu dengan Anissa. Ia berasal dari SMP 1 Kepanjen. Di Hari pertama MOS Saya hanya mempunyai 3 teman yang Saya kenal. Saya jalani dengan senang hati. Di Hari kedua MOS Saya mulai mengenal anak laki-laki. Yang pertama Saya kenal yaitu Fahmy dan Rozi karena mereka berdua duduk di belakang bangku Saya dan Fulqi. Mereka berdua berasal dari sekolah yang sama, SMP 9 Malang. Di hari ketiga Saya dan semua murid baru diajak outbond di Rampal oleh pihak sekolah dan kakak-kakak pembina Osis. Di Rampal Saya mulai mengenal teman-teman sekelas Saya. Ada Dewi, Rofi, Indri, Belia, Afifa, Ko’o, Rosa, Mifta, Sherly, Dyah, Dhea, Arini, Anggi, Rossa, Kenny, Alycya, Ovilia, Eryansyah, Ardiansyah, Aditya, Fatqur, Fazlur, Dani, Aziz, Hario, Maestro, Ridho Kusuma, Ridho Subektiantio, dsb. Di Rampal, Saya dan teman-teman menemukan kekompakan. Sehingga Saya bangga memiliki teman seperti mereka dan tidak merasa Rugi karena masuk SMA ISLAM Malang. Setelah Mos, pelajaran di mulai. Saya tetap duduk sebangku bersama Fulqi. Dan di belakang tempat duduk Saya ada Maestro dengan Hario. Saya dan mereka bertiga menjadi teman akrab semenjak duduk bersama. Tapi, bukan hanya mereka saja. Saya juga dekat dengan Dewi dan Rofie. Saya mengenal Dewi dan Rofie saat ada acara pondok romadhon di Sekolah. Saya juga dekat dengan Dila karena Saya satu tempat ekstra kulikuler bersama Dila dan Dewi. Kedekatan Saya dengan Dewi, Dila dan Rofie semakin erat karena setiap hari bersama-sama di Sekolah. Apalagi Saya dengan Dewi dan Dila karena Saya mengikuti latihan dance bersama. Saat itu Saya ikut dance dalam manajemen salah satu guru di Sekolah. Dan menyewa pelatih, yaitu Kak Ivan. Awal ikut ektrakulikuler ini mulus-mulus saja. Saya dan teman-teman satu kelompok Saya yaitu Dila, Dewi, Ranjid juga sering diikutkan lomba-lomba di berbagai tempat. Sampai Saya dan teman-teman berangkat ke Surabaya. Sepulang dari Surabaya Saya dan teman-teman diminta untuk mengikuti lomba lagi di STIKI. Tapi, entah mengapa setelah persyaratan lomba di STIKI terpenuhi guru yang memegang manajemen tersebut membatalkan lomba tersebut tanpa alasan. Membuat Saya, teman-teman satu kelompok dan pelatih Saya bingung. Setelah membatalkan lomba itu, guru yang memegang manajemen tersebut seperti menaruh pandangan tidak sedap pada Saya dan teman-teman kelompok Saya. Sehingga Saya dan teman-teman kelompok Saya bertanya-tanya apa salah Saya dan teman-teman kelompok Saya. Sejak saat itu dance Saya dan teman-teman kelompok Saya menjadi berantakan dan bisa dikatakn berhenti.Saya dan teman-teman kelompok Saya menanggapi ini semua dengan biasa. Mungkin guru tersebut kecewa atas lomba-lomba yang Saya dan teman-teman kelompok Saya ikuti tidak sering menang. Akhirnya Saya dan teman-teman satu kelompok Saya tidak memikirkan dance lagi dan fokus pada kenaikan kelas.
Alhamdulilah Saya sudah naik kelas sebelas dan masuk jurusan ipa. Saya satu kelas lagi dengan teman sebangku dan teman dekat Saya yaitu Fulqi, Rofie dan Dhiela. Saya juga sekelas dengan teman satu kelompok dance Saya, Ranjid. Sayangnya Saya tidak sekelas dengan Dewi. Karena Dewi masuk jurusan ips. Dikelas baru, Saya juga bertemu dengan teman-teman lainnya. Ada: Venny, Andre, Fiqoh, Aulia, Agung, Adriansyah, Ramadhannu, Husni, Arief, Ganesa, Venda, Fatma, Yunias, dsb. Saya merasa senang seperti kelas XG dahulu. Karena, Mereka sangat peduli kepada teman-teman kelasnya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar